KEBENARAN DI ERA VIRAL: ANTARA RAMAI DAN BENAR

Sukardi Muhamad, M.Pd.

Saat Kebenaran Menjadi Isu yang Viral

Kita hidup di zaman ketika kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, tetapi oleh tingkat ketersebarannya. Ukuran benar dan salah kini bergeser dari ranah epistemologis menuju ranah digital. Apa yang ramai dianggap benar, sedangkan yang benar sering kali tenggelam karena tidak ramai. Media sosial, yang awalnya dimaksudkan sebagai ruang demokratis untuk berbagi informasi, kini menjadi arena perebutan pengaruh dan persepsi. Di dalamnya, setiap individu dapat memproduksi dan menyebarkan kebenarannya sendiri tanpa batas, sementara algoritma memastikan bahwa apa yang paling banyak disukai akan paling sering terlihat. Akibatnya, kebenaran kini hidup di bawah logika viralitas. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat modern sedang mengalami krisis epistemik, yaitu pergeseran dari pencarian kebenaran menuju pencarian validasi sosial. Dalam konteks ini, viral menjadi bentuk baru dari valid.

1.    Kebenaran yang Digerus oleh Logika Popularitas

Dulu, kebenaran adalah hasil pencarian panjang yang menuntut refleksi, nalar, dan verifikasi. Para filsuf dan ilmuwan menempuh jalan sunyi dalam menemukan dan menguji kebenaran. Namun kini, nilai kebenaran diukur bukan oleh kedalamannya, melainkan oleh seberapa menarik ia dikonsumsi publik. Menurut Michel Foucault (1977) dalam Power/Knowledge, kebenaran tidak pernah bebas dari relasi kuasa. Ia selalu diproduksi dalam jaringan kekuasaan tertentu. Di era digital, bentuk kekuasaan itu berubah: bukan lagi pemerintah atau lembaga pengetahuan yang menentukan kebenaran, tetapi algoritma media sosial dan kekuatan opini publik. Dengan kata lain, kekuasaan atas kebenaran kini berpindah ke tangan “massa digital.”

Apa yang viral dianggap benar karena mendapat legitimasi sosial melalui angka jumlah tayangan, komentar, atau reaksi. Inilah yang disebut oleh Zygmunt Bauman (2000) sebagai ciri masyarakat liquid modernity, yaitu masyarakat cair yang tidak memiliki pijakan tetap. Dalam masyarakat semacam ini, kebenaran bersifat sementara, mudah berubah, dan bergantung pada tren. Fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai “kebenaran performatif”: sesuatu dianggap benar sejauh ia dapat tampil menarik, mengundang perhatian, dan memicu emosi. Maka, kebenaran tidak lagi menjadi hasil refleksi intelektual, melainkan hasil pertunjukan sosial.

2.    Algoritma dan Mekanika Kekuasaan Baru

Media sosial bekerja dengan algoritma yang menentukan apa yang pantas dilihat oleh pengguna. Algoritma itu disusun untuk memaksimalkan interaksi dan waktu tonton, bukan untuk menampilkan kebenaran. Apa yang paling memancing emosi baik marah, senang, atau terkejut akan disebarkan lebih luas. Dengan demikian, masyarakat digital hidup dalam apa yang disebut Byung-Chul Han (2017) sebagai infocracy, yaitu tatanan sosial yang dikendalikan oleh informasi. Dalam Infocracy: Digitalization and the Crisis of Democracy, Han menjelaskan bahwa di era digital, kebenaran bukan lagi hasil argumentasi rasional, tetapi hasil dari sirkulasi data dan opini. Kebenaran menjadi apa yang paling sering diklik, bukan yang paling benar secara substansial. Selain itu, Jean Baudrillard (1981) dalam Simulacra and Simulation menyebut fenomena ini sebagai hiperrealitas keadaan di mana representasi (gambar, teks, video) menjadi lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Akibatnya, masyarakat tidak lagi membedakan antara yang asli dan yang tiruan. Dalam konteks viralitas, kebenaran menjadi simulakra: ia bukan cerminan kenyataan, tetapi hasil produksi citra yang meniru kenyataan. Ketika orang lebih percaya pada video editan, potongan berita, atau narasi emosional dibandingkan laporan ilmiah, sesungguhnya kita sedang hidup dalam dunia hiperrealitas Baudrillardian. Dunia di mana “yang tampak benar” lebih penting daripada “yang benar-benar benar.”

3.    Viralitas Sebagai Alat Kekuasaan dan Ideologi

Jika dulu kekuasaan dijalankan melalui wacana politik dan media massa konvensional, kini kekuasaan dijalankan melalui konten viral. Viralitas adalah kekuasaan yang bekerja tanpa terlihat. Ia memengaruhi opini, membentuk persepsi, dan mengatur cara orang berpikir tanpa paksaan. Konsep ini sejalan dengan Norman Fairclough (1995) dalam Critical Discourse Analysis, yang menegaskan bahwa bahasa dan wacana merupakan praktik sosial yang mencerminkan dan sekaligus membentuk kekuasaan. Dalam konteks media sosial, setiap unggahan, komentar, dan narasi viral adalah bentuk wacana yang menciptakan “kebenaran sosial.” Dengan kata lain, viralitas bukan sekadar efek komunikasi, tetapi mekanisme ideologis. Siapa yang mampu membuat sesuatu viral, ia menguasai definisi kebenaran publik. Viralitas dapat menjadi alat dominasi baru yang membungkus kepentingan politik, ekonomi, atau sosial di balik bahasa yang tampak netral. Sebagaimana dikatakan Foucault, kekuasaan tidak hanya memaksa, tetapi juga memproduksi pengetahuan. Maka, dalam dunia digital, kekuasaan itu bekerja melalui arus informasi. Kebenaran kini adalah hasil produksi kekuasaan algoritmik.

4.    Kebenaran yang Sunyi: Antara Refleksi dan Keramaian

Di tengah hiruk-pikuk digital, suara kebenaran sejati semakin tenggelam. Ia kalah oleh sensasi, kalah oleh kecepatan, dan kalah oleh daya tarik emosional. Namun, seperti yang diungkapkan Søren Kierkegaard, kebenaran tidak lahir dari keramaian, melainkan dari kesunyian batin manusia yang berani berpikir sendiri. Orang-orang yang berani berpikir kritis di tengah arus viral ibarat pelaut yang berusaha melawan badai ombak informasi. Mereka tahu bahwa kebenaran tidak butuh viralitas untuk tetap hidup. Ia hanya butuh keberanian dan kejujuran untuk diyakini. Kita dapat mengingat pesan Marshall McLuhan (1964) dalam Understanding Media: “The medium is the message.” Artinya, cara penyampaian pesan sering kali lebih menentukan maknanya daripada isi pesan itu sendiri. Di era digital, media sosial bukan sekadar alat, tetapi struktur berpikir baru yang membentuk cara manusia memahami realitas. Jika medium itu lebih menonjol daripada pesan, maka yang viral lebih berkuasa daripada yang benar.

5.    Tantangan Literasi dan Kesadaran Digital

Untuk mengembalikan martabat kebenaran di era viral, dibutuhkan kesadaran literasi digital yang mendalam. Literasi bukan hanya kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan membaca konteks memahami siapa yang berbicara, untuk tujuan apa, dan dalam struktur kekuasaan apa. Menurut UNESCO (2022), literasi digital harus mencakup kemampuan critical information evaluation kemampuan menilai kredibilitas sumber dan membedakan antara fakta, opini, dan propaganda. Dalam masyarakat yang dibanjiri informasi, kemampuan ini menjadi bentuk pertahanan diri terhadap manipulasi. Selain itu, kita perlu membangun etika berbagi informasi. Setiap kali seseorang menekan tombol share, ia sebenarnya sedang mengambil posisi dalam ekologi pengetahuan publik. Seperti kata Hannah Arendt (1958), tindakan berbicara di ruang publik selalu membawa tanggung jawab moral, karena apa yang kita ucapkan akan membentuk dunia yang kita tinggali bersama.

6.    Refleksi Akhir: Mengembalikan Martabat Kebenaran

Kebenaran tidak akan pernah mati, tetapi bisa dibungkam oleh kebisingan. Ia tidak akan hilang, tetapi bisa ditenggelamkan oleh arus viralitas yang tak terkendali. Karena itu, menjaga kebenaran bukan hanya tugas para akademisi atau jurnalis, tetapi tugas setiap warga digital yang memiliki akses terhadap informasi. Kita perlu mengingat bahwa viralitas bukan validitas, dan popularitas bukan moralitas. Apa yang ramai belum tentu benar, dan apa yang benar sering kali tidak ramai. Maka, keberanian untuk berpikir kritis dan tidak terburu-buru membagikan informasi adalah bentuk perlawanan kecil yang bermakna besar. Sebagaimana dikatakan Byung-Chul Han, dalam dunia yang penuh kebisingan informasi, “kesunyian adalah bentuk resistensi terakhir.” Mungkin, untuk menemukan kebenaran hari ini, kita perlu belajar kembali mendengarkan yang sunyi bukan suara paling keras, tetapi suara yang paling jujur.

Kebenaran yang Tak Perlu Viral untuk Tetap Vital. Kebenaran sejati tidak selalu viral, tetapi selalu vital bagi kehidupan manusia. Ia adalah fondasi moral dan intelektual yang menjaga agar peradaban tidak runtuh oleh kebohongan kolektif. Di tengah dunia yang diatur oleh algoritma dan sensasi, manusia harus menjadi penjaga akal sehat yang berani berkata “tidak” pada yang ramai bila itu tidak benar, dan berkata “ya” pada yang sunyi bila itu jujur.

Mungkin kebenaran hari ini tampak kalah, tetapi sejarah selalu berpihak pada yang tulus. Karena pada akhirnya, viralitas akan berlalu, tetapi kebenaran akan bertahan.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Back To Top